Melihatmu
di kepung gedung-gedung tua kampus, maka tampaklah
olehku
matahari terbit dari balik pundakmu. Meski sebenarnya
jam
telah mengantar matahari tepat di atas ubun-ubun.
Aku
masih bisa merekammu dari ketinggian lantai tiga.
Masih
bisa ku sibakan debu yang menghalangi pandanganku.
Di
ketinggian lantai tiga, di antara dua mataku yang terluka menatapmu,
memenjarakan
tubuhmu dalam kornea mataku,
masih
bisa ku sebut namamu dalam hati yang memar ini.
Tanpa
ku harus turun dan menepuk bahumu, ketinggian lantai tiga ini
masih
menampung tubuhku untuk tak terjatuh dihadapanmu.
II
Roh
ku terlanjur jatuh di hadapanmu, tapi kau pasti tak melihatnya.
Matahari
mendarat untuk kemudian merangkul keberadaan kita.
Lihat,
tubuhku menatapmu dari ketinggian lantai tiga. Dengan mata dan hati
yang
sama-sama memar dan terluka.
Mengenalmu,
adalah perjalanan yang menyesatkanku di dunia dongeng masa
kanak.
Tersesat dan tak bisa dipulangkan.
Ku
ingin ikut denganmu.
Meski
harus sebagai budak dalam dongengmu. Ku ingin ikut denganmu.
Tidak
terbungkam dan terpisah dari roh ku yang sedang merayumu.
Jogja, 5
Oktober 2013
Puisi “Pewara
Dinamika UNY” Oktober 2013
0 komentar:
Posting Komentar