Minggu, 05 Januari 2014

METAFORA

I
Melihatmu di kepung gedung-gedung tua kampus, maka tampaklah
olehku matahari terbit dari balik pundakmu. Meski sebenarnya
jam telah mengantar matahari tepat di atas ubun-ubun.
Aku masih bisa merekammu dari ketinggian lantai tiga.
Masih bisa ku sibakan debu yang menghalangi pandanganku.
Di ketinggian lantai tiga, di antara dua mataku yang terluka menatapmu,
memenjarakan tubuhmu dalam kornea mataku,
masih bisa ku sebut namamu dalam hati yang memar ini.
Tanpa ku harus turun dan menepuk bahumu, ketinggian lantai tiga ini
masih menampung tubuhku untuk tak terjatuh dihadapanmu.


II
Roh ku terlanjur jatuh di hadapanmu, tapi kau pasti tak melihatnya.
Matahari mendarat untuk kemudian merangkul keberadaan kita.
Lihat, tubuhku menatapmu dari ketinggian lantai tiga. Dengan mata dan hati
yang sama-sama memar dan terluka.
Mengenalmu, adalah perjalanan yang menyesatkanku di dunia dongeng masa
kanak. Tersesat dan tak bisa dipulangkan.
Ku ingin ikut denganmu.
Meski harus sebagai budak dalam dongengmu. Ku ingin ikut denganmu.
Tidak terbungkam dan terpisah dari roh ku yang sedang merayumu.

 Jogja, 5 Oktober 2013

Puisi “Pewara Dinamika UNY” Oktober 2013

0 komentar:

Posting Komentar

prev next