Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Review. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Maret 2015

MENEMPUH JALAN KESUNYIAN: TENTANG SEBUAH PERJUANGAN HIDUP


          

Menempuh jalan kesunyian, itulah yang selalu diucapkan Ajo Kawir, ketika setiap orang menantangnya untuk berduel. Jagoan duel dari kampung Bojong Soang itu belajar dari ‘burung’-nya. Ia tak lagi mengutuki ‘burung’-nya yang tak bisa berdiri seperti saat Ajo Kawir berusia belasan tahun. Lelaki itu kini menjadi seorang supir truk dan menikmati liku jalanan lintas Jawa-Sumatra atau terkadang Jawa-Bali. Kehidupan seorang supir truk yang serba keras harus ia lalui hanya dengan seorang kenek berusia sembilan belas tahun untuk menempuh jalan kesunyian seperti yang dilakukan ‘burung’-nya.

Selasa, 23 September 2014

PERJALANAN BATIN MEMAHAMI: DIRI SENDIRI, CINTA, DAN NEGARA


       Novel Maya karya Ayu Utami merupakan bagian dari Seri Bilangan Fu, setelah sebelumnya terbit novel besar Bilangan Fu dan dua novel Seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa serta Lalita. Novel Maya dalam Seri Bilangan Fu yang ketiga ini menghubungkan Seri Bilangan Fu dengan novel dwilogi Saman dan Larung. Tokoh-tokoh dalam novel Maya merupakan tokoh-tokoh besar novel Bilangan Fu seperti Parang Jati, Suhubudi dan tiga tokoh lain yang hadir dari novel dwilogi Saman dan Larung; Yasmin, Saman dan Larung.

Bila dalam novel Bilangan Fu lebih filosofis, seri Maya ini lebih merupakan perjalanan batin untuk banyak pemahaman. Pemahaman akan diri sendiri, cinta, dan negara. Perjalanan batin ini bermula ketika Yasmin menerima tiga pucuk surat dari kekasih gelapnya, Saman, setelah Saman dinyatakan hilang selama dua tahun. Bersama suratnya, aktivis hak asasi manusia itu juga mengirimkan sebutir batu akik. Untuk menjawab peristiwa misterius itu Yasmin yang sesungguhnya sangat rasional dan kurang mempercayai hal-hal mistis datang kepada seorang guru kebatinan, Suhubudi. Di padepokan guru kebatinan yang sekaligus ayah Parang Jati, diketahui dulunya seringkali didatangi oleh Saman yang sebelumnya bernama Frater Wisanggeni. Batu akik itu sendiri, Saman dapatkan dari Parang Jati saat dirinya masih seorang frater.
next