Di depan pintu rumahku, aku terduduk menghadap
seorang gembala yang sedang menggiring angin. Jauh dua meter di hadapanku, ia
menghalau lima belas ekor domba yang harus ku hitung dengan lima kali
kesalahan. Pertama, aku menghitungnya ada sebelas ekor. Tetapi aku tidak yakin,
lalu ku ulangi kembali, domba itu menjadi sepuluh ekor, lebih sedikit, tidak
mungkin pikirku. Ketiga kalinya, aku menghitung ada dua belas ekor. Aku mohon
tenanglah domba-domba yang sedang ku hitung! Aku di buat gemas oleh domba-domba
yang dari jarak dua meter tampak seperti bongkahan kapas berterbangan. Mereka
berlari semaunya memburu dimana ada rumput yang rekah. Keempat kalinya, aku
menghitung domba itu kembali berjumlah sebelas. Kali ini kesalahan di buat oleh
si penggembala, ia mengahalangi pandanganku. Ia menghalau domba-domba supaya
mereka berada dekat dengan tuannya. Curang, pikirku. Penggembala itu duduk di
bawah sebuah pohon beringin rimbun, sementara ia tak mengijinkan domba-dombanya
menuju kebun jagung yang berada agak jauh untuk mencari tempat teduh yang
rumputnya lebih rekah, barang sejenak. Sudahlah, akan ku lanjutkan hitunganku
untuk kelima kalinya, domba itu berjumlah empat belas. Aku mohon tenanglah
domba-domba yang sedang ku hitung!
Ku
alihkan pandanganku sejenak pada si penggembala, sambil menunggu domba-domba
itu tenang. Ia seorang remaja tanggung bertopi hitam. Duduk memeluk lutut
sambil mambawa sebuah ranting di tangan kirinya. Ia menunggui domba-dombanya
yang sedang merumput dengan khikmat. Ia diam seperti sedang membujuk para
rumput untuk segera tumbuh kembali, supaya esok hari ia bisa kembali mengantar
domba-dombanya untuk merumput. Domba-domba itu sudah tenang. Mereka diam dalam
formasi yang sempurna, sehingga aku yakin hitunganku kali ini tidak akan salah.
Ya, ada lima belas ekor domba. Bahkan aku bisa melihat lima ekor domba
bertanduk dan empat ekor domba kecil. Mereka tampak manis sekali.
Bongkahan-bongkahan kapas itu menikmati santap sorenya dengan nikmat.
Di
depan pintu rumahku. Aku masih duduk di sana di temani dua ekor kucing yang
sedang tidur melingkar. Dua buah pesawat telah lewat, sepanjang dua jam aku
duduk di depan pintu rumah.
“Ken,
masuklah! Aku telah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah!”
“Sebentar
Mary, aku sedang tidak ingin melewatkan domba-domba dan pesawat yang dapat ku
lihat dari depan pintu rumahku ini. Mungkin sebentar lagi akan ada sesuatu yang
lain.”
“Kau
bisa melihatnya kapan saja Ken. Sekarang mandilah!”
“Apakah
kau bisa menjamin aku bisa menikmati pemandangan ini kapan saja?” kali ini aku
meninggikan suaraku. Tidak ada jawaban. Mary memilih kembali ke dalam dan
membiarkanku duduk di depan pintu rumah dengan dua ekor kucing yang masih tidur
melingkar di bawah kakiku.
Ada
pesawat lagi. Kali ini aku menangkap deru suaranya dengan jelas. Melihat tubuhnya
yang di hiasi lampu merah di bawah sayapnya. Ia melintas tepat di atas
domba-domba yang masih asyik merumput. Deru suaranya mengusik seekor domba
kecil sehingga ia tampak berlarian berlindung di bawah ketiak induknya. Lalu ia
pun menyusu. Aku tersenyum. Kantong susu itu dapat menenangkan dalam segala
suasana. Telingaku masih menangkap deru pesawat, meskipun tubuhnya telah
ditelan gumpalan putih diatas sana. Tetapi sepertinya aku masih melihat para
penumpang yang selalu ingin tahu keadaan di luar jendela yang tak boleh di buka
itu. Mereka ingin sekali menyaksikan tubuh-tubuh mungil yang sedang menyentuh
tanah. Termasuk aku dan domba-domba, juga penggembala itu. Aku melihat mereka
meninggalkan jejak kenangan di kota sebelumnya, membiarkan burung bermesin itu
menerbangkan mereka ke tempat lain.
“Ken,
mandilah!”
“Aku
sedang menghitung seberapa banyak kenangan yang orang-orang itu tinggalakan di
kota sebelumnya, sebelum mereka naik pesawat untuk pergi ke kota lain.”
“Itu
bukan urusanmu Ken! Urusanmu sekarang adalah mandi!”
“Sebentar
Mary, aku tidak mau melewatkan pesawat dan para panumpangnya.”
“Kau
teringat sesuatu Ken?” kali ini Mary memegang bahuku. Mataku menyapu permukaan
langit.
“Ken?”
Mary kembali memanggilku lembut.
***
Setidaknya kita pernah melewati banyak hal di
depan pintu rumah ini. Kita pernah duduk berdua sambil memangku kucing-kucing
kita. Aku memangku kucing berwarna putih dan kau memangku kucing yang berwarna
hitam. Di depan pintu rumah ini, kita duduk berdua sambil menghitung burung
layang-layang yang dulu singgah di hamparan sawah yang sekarang telah menjadi
kebun jagung. Domba-domba itu dulu berjumlah tiga belas ekor. Penggembalanya
seorang anak kecil yang selalu telanjang dada.
Di
depan pintu rumah ini, kita bersama-sama mengukir nama kita dalam sebuah tiang
kayu yang menyangga atap teras rumahku. Kayu itu sudah mulai lapuk termakan
usia, tapi nama kita masih ada.
“Maukah
kau ku buatkan secangkir kopi robusta?” kau mengangguk sambil tersenyum ke
arahku.
Kita
selalu duduk di depan pintu rumah ini sambil menikmati secangkir kopi robusta
buatanku dan setoples biskut cokelat kesukaan kita. Sambil menunggu anak
gembala menghalau domba-dombanya untuk pulang. Sambil menunggu bangau-bangau
itu pulang ke sarangnya. Tetangga-tetangga selalu hafal dan melambaikan
tangannya ketika lewat di hadapan kita.
“Andy?”
“Ya,
Ken.”
“Aku
ingin selalu duduk disini bersamamu. Sambil menimang anak-anak kita, kelak.
Mengenalkan dan mengajari mereka menghitung domba-domba itu.”
“Tentu,
Ken”, jawabmu sambil merapatkan diri padaku dan memelukku.
Pernah
suatu ketika kau tak menemaniku duduk di depan pintu rumah ini.
Tetangga-tetangga itu mengerutkan wajah bertanya-tanya, dimana kamu.
Penggembala kecil sesekali melemparkan tatapan asing padaku. Tatapan yang tak
pernah ku kenal, selama kita selalu duduk berdua dan membalas lambaian anak
gembala itu setiap kali ia lewat. Tetapi
aku tetap menyediakan dua buah cangkir kopi robusta dan setoples biskuit
cokelat kesukaan kita. Barangkali kau tiba-tiba datang dan menemaniku lagi. Kopi
milikmu ku biarkan dingin dan tak terminum. Begitu seterusnya. Aku tak bisa
lagi menghitung berapa banyak kopi yang terbuang sia-sia. Mary selalu membereskan
tanpa harus ku suruh lagi.
***
“Ken,
apa kau mengingat sesuatu?” Mary kembali menanyaiku lembut.
“Aku
membayangkan ia melambaikan tangan dari pesawat itu.” Mary memelukku erat.
Penggembala
itu lewat di hadapanku. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum padaku. Aku
hanya membalasnya dengan senyum tipis.
“Siapa
penggembala itu?”
“Dia
penggembala kecil yang dulu selalu bertelanjang dada.”
Aku
baru sadar. Aku telah lama duduk di depan pintu ini, sambil menunggui kopi
robusta yang sudah dingin dari tadi.
“Mandilah!”
Aku
mengalah dan masuk ke dalam untuk mandi, bersamaan dengan telepon yang
berdering. Aku bergegas menyambar gangang telepon itu. Pembicaraan yang singkat
dari seberang.
“Bersiaplah
Mary, kita akan ke bandara menjemput seseorang.”
Jogja, 31 Oktober 2013
:mengiringi kepulanganmu yang kedua
kalinya, Andy:
(“Di
Depan Pintu Rumah” Minggu Pagi, 6
Desember 2013)
0 komentar:
Posting Komentar