Bahasa
tubuhnya adalah puisi. Rambutnya, matanya, senyumnya, gemulai tubuhnya, adalah
puisi. Kulukiskan semuanya penuh pesona. Malam di bawah naungan rembulan, aku
mengurai pesonanya di atas selembar kertas. Dengan pena bertinta emas, kugoreskan
sajak indah untuk gadisku dalam puisi. Kuberkeluh-kesah bersama sajak-sajak
malam. Berbisik rindu penuh kemesraan. Semilir angin berdesau menelisik sela
telinga. Bermain, mengirimkan sajak-sajak agar sampai kepada gadisku.
Terus
kutuliskan pesonanya tanpa terlewatkan. Menerawang jauh pikirku menuju sosok
gadis dalam puisi. Aku tak urung dengan perasaanku. Bagiku inilah keindahan
yang sempurna. Yang tertuang dalam sebuah sajak sang pujangga. Lukisan gadis
dalam puisi, yang membuat malam seperti tertawa saat aku menuliskan tentang
gadis itu. Namun malam masih melindungiku dalam nuansa semilir angin mesra yang
di kirimnya padaku.