Rabu, 10 Juli 2013

GADIS DALAM PUISI


            Bahasa tubuhnya adalah puisi. Rambutnya, matanya, senyumnya, gemulai tubuhnya, adalah puisi. Kulukiskan semuanya penuh pesona. Malam di bawah naungan rembulan, aku mengurai pesonanya di atas selembar kertas. Dengan pena bertinta emas, kugoreskan sajak indah untuk gadisku dalam puisi. Kuberkeluh-kesah bersama sajak-sajak malam. Berbisik rindu penuh kemesraan. Semilir angin berdesau menelisik sela telinga. Bermain, mengirimkan sajak-sajak agar sampai kepada gadisku.
            Terus kutuliskan pesonanya tanpa terlewatkan. Menerawang jauh pikirku menuju sosok gadis dalam puisi. Aku tak urung dengan perasaanku. Bagiku inilah keindahan yang sempurna. Yang tertuang dalam sebuah sajak sang pujangga. Lukisan gadis dalam puisi, yang membuat malam seperti tertawa saat aku menuliskan tentang gadis itu. Namun malam masih melindungiku dalam nuansa semilir angin mesra yang di kirimnya padaku.
            Dalam keremangan lentera kamarku, auranya terasa menghampiri. Berbait-bait kulukiskan keindahannya. Rambut hitam legamnya yang terurai panjang. Mata rembulanya yang tak pernah redup dengan kilaunya. Senyum misterius yang selalu menggodaku. Gemulai tubuhnya saat ia menghampiriku. Tapi kutunggu hingga saat ini ia tak juga menjemput,  membawaku  bersamanya.
            Lewat puisi aku mengenalnya. Dalam alunan nada tak bernyawa, ia tanpa permisi memenuhi lorong-lorong hati. Mengembang dan terus bernaung di sana. Hingga ku semakin risau dibuatnya. Kutulis, kulukis, dan kutulis. Hampir seluruh puisiku bercerita tentang gadis itu. Entah sejak kapan ia hadir. Kuhanya merasa ia mulai memenuhi rongga-rongga hati dengan pesonanya.
            Kusingkap sedikit gorden jendela di hadapanku. Di sana, rembulan telah mengintip untuk menanyakan siapa dan di mana gadis itu.
            “Ia gadis dalam puisiku,” jawabku pada rembulan.
            Kulihat wajah rembulan itu masih ragu. Hingga aku
 pun harus menyakinkannya dengan puisi.
            “Wahai malam yang berkeluh kesah, pada siapa kuberbagi tentang gadis dalam puisiku? Pada bulan, tampaknya ia ragu. Pada bintang, tampaknya ia tak percaya. Wahai pena kosong tanpa tinta, mungkin kini kau lebih mengerti. Gadis itu masih mengendap ditepian imaji. Kulukiskan ia dalam sajak-sajak penuh luapan cinta. Kusanjung ia tanpa ragu. Wahai gadis dalam puisi, biarkan sajak ku menyapamu. Biarkan kuhidup di bawah naungan pesonamu. Dalam pemberontakan suciku untuk memilikimu. . .”
            Bulu kudukku berdiri usai membaca puisi untuk gadisku. Bergetar seperti tersentuh auranya. Tampak wajah rembulan berubah cerah menertawakanku yang mengharap kehadiran gadis dalam ilusi. Aku tak peduli. Kembali kugores pena dengan sajak-sajak kosong. Rembulan mencibir puisiku. Ia hanya ingin mengatakan bahwa gadis itu hanya ada dalam imajiku. AKU TAK PEDULI! Kembali kugores pena, mengabaikan cibiran sang rembulan.
            “Limada. . .?” tubuhku bergetar mendengar panggilan lembut seorang gadis.
            “Aku bersandar dalam puisimu. Kau berikan aku nyawa dengan puisimu. . .”
            Aku tertegun. Ia bukan ilusi. Ia hidup dalam puisiku. Gadisku. Gadis dalam puisi yang abadi. Aku tersenyum penuh kemenangan menghina rembulan.

(cerpen Kaca Kedaulatan Rakyat 27 April 2012)

0 komentar:

Posting Komentar

prev next