Bahasa
tubuhnya adalah puisi. Rambutnya, matanya, senyumnya, gemulai tubuhnya, adalah
puisi. Kulukiskan semuanya penuh pesona. Malam di bawah naungan rembulan, aku
mengurai pesonanya di atas selembar kertas. Dengan pena bertinta emas, kugoreskan
sajak indah untuk gadisku dalam puisi. Kuberkeluh-kesah bersama sajak-sajak
malam. Berbisik rindu penuh kemesraan. Semilir angin berdesau menelisik sela
telinga. Bermain, mengirimkan sajak-sajak agar sampai kepada gadisku.
Terus
kutuliskan pesonanya tanpa terlewatkan. Menerawang jauh pikirku menuju sosok
gadis dalam puisi. Aku tak urung dengan perasaanku. Bagiku inilah keindahan
yang sempurna. Yang tertuang dalam sebuah sajak sang pujangga. Lukisan gadis
dalam puisi, yang membuat malam seperti tertawa saat aku menuliskan tentang
gadis itu. Namun malam masih melindungiku dalam nuansa semilir angin mesra yang
di kirimnya padaku.
Dalam
keremangan lentera kamarku, auranya terasa menghampiri. Berbait-bait kulukiskan
keindahannya. Rambut hitam legamnya yang terurai panjang. Mata rembulanya yang
tak pernah redup dengan kilaunya. Senyum misterius yang selalu menggodaku.
Gemulai tubuhnya saat ia menghampiriku. Tapi kutunggu hingga saat ini ia tak
juga menjemput, membawaku bersamanya.
Lewat
puisi aku mengenalnya. Dalam alunan nada tak bernyawa, ia tanpa permisi
memenuhi lorong-lorong hati. Mengembang dan terus bernaung di sana. Hingga ku
semakin risau dibuatnya. Kutulis, kulukis, dan kutulis. Hampir seluruh puisiku
bercerita tentang gadis itu. Entah sejak kapan ia hadir. Kuhanya merasa ia
mulai memenuhi rongga-rongga hati dengan pesonanya.
Kusingkap sedikit gorden jendela di hadapanku. Di sana,
rembulan telah mengintip untuk menanyakan siapa dan di mana gadis itu.
“Ia
gadis dalam puisiku,” jawabku pada rembulan.
Kulihat
wajah rembulan itu masih ragu. Hingga
aku
pun harus
menyakinkannya dengan puisi.
“Wahai
malam yang berkeluh kesah, pada siapa kuberbagi tentang gadis dalam puisiku? Pada bulan, tampaknya ia ragu. Pada bintang, tampaknya
ia tak percaya. Wahai pena kosong tanpa
tinta, mungkin kini kau lebih mengerti. Gadis itu masih mengendap ditepian
imaji. Kulukiskan ia dalam sajak-sajak penuh luapan cinta. Kusanjung ia tanpa
ragu. Wahai gadis dalam puisi, biarkan sajak ku menyapamu. Biarkan kuhidup di
bawah naungan pesonamu. Dalam pemberontakan suciku untuk memilikimu. . .”
Bulu
kudukku berdiri usai membaca puisi untuk gadisku. Bergetar seperti tersentuh
auranya. Tampak wajah rembulan berubah cerah menertawakanku yang mengharap
kehadiran gadis dalam ilusi. Aku tak peduli. Kembali kugores pena dengan
sajak-sajak kosong. Rembulan mencibir puisiku. Ia hanya ingin mengatakan bahwa
gadis itu hanya ada dalam imajiku. AKU TAK PEDULI! Kembali kugores pena,
mengabaikan cibiran sang rembulan.
“Limada. . .?” tubuhku bergetar mendengar panggilan
lembut seorang gadis.
“Aku
bersandar dalam puisimu. Kau berikan aku nyawa dengan puisimu. . .”
Aku
tertegun. Ia bukan ilusi. Ia hidup dalam puisiku. Gadisku. Gadis dalam puisi
yang abadi. Aku tersenyum penuh kemenangan menghina rembulan.
(cerpen Kaca Kedaulatan Rakyat 27 April 2012)
0 komentar:
Posting Komentar