Dua
hari lalu aku masih menyaksikan lelaki paruh baya itu mengayuh sepedanya menuju
tempatnya bekerja. Ia seorang buruh proyek yang bekerja dibawah seorang
kontraktor yang saat ini sedang menyelesaikan sebuah proyek gedung pencakar
langit, yang nantinya akan dijadikan sebagai apartement. Sejauh pengamatanku,
apartement yang terletak diseberang tempat kerjaku itu sudah setengah jadi.
Lantai satu dan dua sudah mulai ditempati oleh orang-orang pendatang.
“Kau
harus menghadiri eksekusi seorang buruh proyek itu! Kita tidak boleh melewatkan
satu pun dari berita ini! Kau bisa menjadikannya head line news untuk edisi yang akan terbit lusa,” seorang pimpinan
redaksi memerintahku terjun ke lapangan untuk mengupas lebih jauh lagi mengenai
eksekusi yang dijatuhkan pada seorang buruh proyek itu.
Lima
orang reporter lainnya hanya saling berpandangan, seolah tak percaya dengan apa
yang mereka dengar. Rapat redaksi ditutup. Aku keluar dengan langkah gontai.
Benarkah seorang buruh proyek yang sering ku ajak berbincang selama ini akan
dieksekusi? Kesalahan terbesar apakah yang dilakukannya? Pikiranku kalut.
Terbayang wajah lelaki paruh baya yang tak mengerti apa-apa selain martil dan
palu sebagai senjatanya itu, matanya ditutup kain hitam dan harus meregang
nyawa tanpa suatu pengadilan apa pun. Tak mungkin. Pasti ada sesuatu dibalik
ini.
Waktuku
tak panjang untuk menjelma menjadi penyidik. Pukul 07.45, ku datangi apartement
tempat biasa lelaki itu bekerja sehari-harinya. Beberapa rekannya telah
berkumpul digedung lantai lima untuk melanjutkan pekerjaannya. Tampak berdiri
diantara mereka seorang berjas dengan kemeja biru didalamnya dan dilengkapi
dengan dasi berwarna biru laut. Sepatunya berkilat diterpa matahari pagi yang
bangkit perlahan dari timur. Garis wajahnya tajam dan licik. Alis matanya naik,
hidungnya agak besar dan bibirnya tebal biru, sepertinya ia seorang perokok.
Matanya lebar setelah ia melepas kaca mata hitamnya. Sementara aku menilai
lelaki itu demikian. Aku mendekati lelaki itu dan menunjukan kartu perss-ku.
“Selamat
pagi pak, bisakah bapak jelaskan kepada saya bagaimana kelanjutan eksekusi dari
salah satu pekerja bapak itu?”
Lelaki
yang ternyata seorang kontraktor itu menatapku tajam. Kemudian menjawab
pertanyaanku tanpa menatapku.
“Eksekusi
akan tetap dilaksanakan.”
Aku
menunggunya untuk melanjutkan jawabannya yang singkat itu. Tapi ternyata memang
hanya itu jawaban yang bisa diberikannya padaku. Aku pun kembali bertanya pada
lelaki yang sekarang tengah mengisap rokoknya.
“Apakah
sudah ada pengadilan yang berlangsung dan apa saja yang menjadi bukti-bukti
atas kesalahannya?”
“Orang
macam dia tak perlu pengadilan. Tak ada pengadilan untuk orang melarat. . .”
katanya ketus.
“Pengadilan
untuk orang-orang melarat hanya akan memperpanjang masalah saja,” lanjut lelaki
itu masih dalam nada yang sama, ketus.
“Maaf
pak, tapi bisakah bapak jelaskan apa kesalahannya?”
“Dia
itu koruptor kelas teri!” nadanya dibuat lebih tinggi.
“Lalu.
. .”
“Cukup!
Saya tidak punya banyak waktu! Banyak pertemuan yang harus saya hadiri,” lantas
lelaki itu berlalu begitu saja meninggalkan asap rokok yang terakhir ia
hembuskan tepat didepan wajahku.
Aku
tidak mendapatkan info apa pun hari ini. Penjelasan yang diberikan kontraktor
itu tidak cukup membuatku puas, justru malah semakin mengacau pikiranku.
“Anda
tidak akan mendapatkan info apa pun mengenai eksekusi ini, mas. Semua dilakukan
secara rahasia,” seorang pekerja yang tengah mencampur semen dengan pasir mulai
angkat bicara. Aku mendekatinya, berharap ada informasi yang bisa ku dapatkan
lebih jelas darinya.
“Bisakah
bapak ceritakan secara detail kejadian sesungguhnya?”
“Saya
tidak tahu apa-apa mas. Kami yang disini tidak akan angkat bicara apa pun
mengenai eksekusi ini,” jawab lelaki itu ketakutan. Mimik wajahnya berubah
seketika.
“Saya
akan menjamin keselamatan bapak. Saya bicara atas nama keadilan hukum dinegara
kita, pak!” lelaki yang mulai mengaduk semen dan pasir itu menghentikan
pekerjaannya. Pekerja lainnya pun mengalihkan pandanganya padaku.
“Baiklah.
. .”
Ia
menarik nafas panjang sebelum memulai kesaksiannya, meski tampaknya ia ragu.
“Saya
tidak bisa memberikan banyak informasi, tapi baiklah. . . Sebut saja Pak
Narto. Ia telah berpuluh-puluh tahun
bekerja dibawah kontarktor yang tadi sempat mas ajak berbicara. Istrinya
menjadi pembantu rumah tangga ditempat kontraktor itu juga. Sebenarnya sudah
enam bulan ini, setengah dari gaji kami ditahan olehnya. Emmm, bukan ditahan,
tapi dimakan. Uang lembur juga tidak diberikan. Selain Pak Narto, kami semua
ini perantau, mas. Kami bekerja secara langsung dibawah seorang kontraktor,
karena mandor kami diberhentikan oleh kontraktor itu juga. Ancaman-ancaman
selalu menekan kami apabila semua ini terbongkar. Dia itu licik, mas. Pandai
memutar balikan fakta. Pak Narto, contohnya. Ia ikut demo saat hari buruh
beberapa bulan lalu. Ia mengadu kepada pihak yang bersangkutan mengenai
ketidakadilan yang selama ini dirasakannya. Ia ingin membela hak-hak kami.
Sebulan setelah demo itu berlangsung, sempat dilaksanakan dua kali pengadilan.
Ia menjadikan kontraktor itu sebagai terdakwa. Tapi ia kalah telak. Ia kena
skak mat. Dengan bukti-bukti palsu yang beredar dikalangan pengadilan, justru
Pak Narto yang malah menjadi terdakwa. Ia tertuduh menggelapkan uang yang
kontraktor itu titipkan padanya untuk kami, ia dituduh menggelapkan
material-material pembuatan apartemen ini. Padahal. . . Padahal kami tahu, ia
tak pernah melakukan ini. Tapi mulut kami dibungkam dengat pistol yang
kontrakror itu pernah todongkan pada kami.
“Yang
kami tidak mengerti, alasan dari mana yang kemudian memperkuat bahwa rekan kami
itu harus dieksekusi. Dan, satu lagi mas, eksekusi itu akan dilaksanakan tepat
nanti malam pukul 00.00. Ada enam tim penembak, dan salah satunya adalah
kontraktor itu sendiri. . .”
Mata
lelaki yang bercertia panjang lebar itu mulai berkaca-kaca. Kepalanya menunduk
dalam. Hingga seorang rekannya yang lain harus melanjutkan kesaksiannya.
“Kami
memang tidak berpendidikan, mas. Tapi kami tahu, sistem keadilan dinegara kita
ini masih jauh dari adil. Banyak orang-orang penting yang mau disuap. Tapi ya
mau bagaimana lagi mas, kami juga tidak mampu menyuap mereka. Kesaksian kami
dianggap omong kosong.”
***
Pukul
23.45, ditempat pelatihan penembakan Akademi Militer Angkatan Darat.
Aku
berhasil menempatkan diri tanpa kartu perss lima belas menit sebelum eksekusi
dimulai. Aku berada dilantai dua gedung yang mengelilingi tempat pelatihan
penembakan itu. Pak Narto tampak pasrah. Ia diletakkan sebagai sasaran dengan
mata ditutup kain hitam. Sambil menunggu enam tim penembak, aku mengatur
pistolku. Memasukan beberapa peluru. Aku mulai membidik mencari korban yang
jantungnya akan ku tembus. Eksekusi ini disaksikan oleh para militer dan
seorang keluarga. Istrinya. Aku melihat istri Pak Narto menahan isak air
matanya.
Pukul
23.59. Satu menit lagi eksekusi akan dimulai. Aku telah menemukan sasaranku.
Seorang berjas rapi dengan sepatu hitam berkilat diterpa cahaya lampu neon.
Enam tim penembak berjajar rapi dihadapan seorang lelaki paruh baya itu. Lima
orang berseragam dan satu orang berjas, ya, dialah sasaranku. Aku menghitung
mundur dalam hati mendahului mereka. Lima, empat, tiga, dua. . .
Tiga
peluru kuluncurkan sekaligus kearah punggung lelaki berjas itu. Pistol dengan
peredam suara ini bekerja dengan baik. Orang-orang sekitar riuh. Lima tim
penembak lainnya mengurungkan niat untuk melanjutkan eksekusi. Semua sibuk
mengurusi mayat seorang kontraktor licik yang ternyata telah bertahun-tahun
menindas para buruh proyek yang bekerja dibawahnya. Aku bergegas meninggalkan
tempat. Datang terlambat dan masuk dengan menunjukan kartu perss. Aku telah
berhasil mengeksekusi kontraktor itu secara ilegal. Kesaksian para buruh proyek
itu ada ditanganku. . .
(Cerpen Harian Joglosemar, 21 April
2013)
0 komentar:
Posting Komentar