Senin, 08 Juli 2013

EKSEKUSI


            Dua hari lalu aku masih menyaksikan lelaki paruh baya itu mengayuh sepedanya menuju tempatnya bekerja. Ia seorang buruh proyek yang bekerja dibawah seorang kontraktor yang saat ini sedang menyelesaikan sebuah proyek gedung pencakar langit, yang nantinya akan dijadikan sebagai apartement. Sejauh pengamatanku, apartement yang terletak diseberang tempat kerjaku itu sudah setengah jadi. Lantai satu dan dua sudah mulai ditempati oleh orang-orang pendatang.
            “Kau harus menghadiri eksekusi seorang buruh proyek itu! Kita tidak boleh melewatkan satu pun dari berita ini! Kau bisa menjadikannya head line news untuk edisi yang akan terbit lusa,” seorang pimpinan redaksi memerintahku terjun ke lapangan untuk mengupas lebih jauh lagi mengenai eksekusi yang dijatuhkan pada seorang buruh proyek itu.
            Lima orang reporter lainnya hanya saling berpandangan, seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Rapat redaksi ditutup. Aku keluar dengan langkah gontai. Benarkah seorang buruh proyek yang sering ku ajak berbincang selama ini akan dieksekusi? Kesalahan terbesar apakah yang dilakukannya? Pikiranku kalut. Terbayang wajah lelaki paruh baya yang tak mengerti apa-apa selain martil dan palu sebagai senjatanya itu, matanya ditutup kain hitam dan harus meregang nyawa tanpa suatu pengadilan apa pun. Tak mungkin. Pasti ada sesuatu dibalik ini.
            Waktuku tak panjang untuk menjelma menjadi penyidik. Pukul 07.45, ku datangi apartement tempat biasa lelaki itu bekerja sehari-harinya. Beberapa rekannya telah berkumpul digedung lantai lima untuk melanjutkan pekerjaannya. Tampak berdiri diantara mereka seorang berjas dengan kemeja biru didalamnya dan dilengkapi dengan dasi berwarna biru laut. Sepatunya berkilat diterpa matahari pagi yang bangkit perlahan dari timur. Garis wajahnya tajam dan licik. Alis matanya naik, hidungnya agak besar dan bibirnya tebal biru, sepertinya ia seorang perokok. Matanya lebar setelah ia melepas kaca mata hitamnya. Sementara aku menilai lelaki itu demikian. Aku mendekati lelaki itu dan menunjukan kartu perss-ku.
            “Selamat pagi pak, bisakah bapak jelaskan kepada saya bagaimana kelanjutan eksekusi dari salah satu pekerja bapak itu?”
            Lelaki yang ternyata seorang kontraktor itu menatapku tajam. Kemudian menjawab pertanyaanku tanpa menatapku.
            “Eksekusi akan tetap dilaksanakan.”
            Aku menunggunya untuk melanjutkan jawabannya yang singkat itu. Tapi ternyata memang hanya itu jawaban yang bisa diberikannya padaku. Aku pun kembali bertanya pada lelaki yang sekarang tengah mengisap rokoknya.
            “Apakah sudah ada pengadilan yang berlangsung dan apa saja yang menjadi bukti-bukti atas kesalahannya?”
            “Orang macam dia tak perlu pengadilan. Tak ada pengadilan untuk orang melarat. . .” katanya ketus.
            “Pengadilan untuk orang-orang melarat hanya akan memperpanjang masalah saja,” lanjut lelaki itu masih dalam nada yang sama, ketus.
            “Maaf pak, tapi bisakah bapak jelaskan apa kesalahannya?”
            “Dia itu koruptor kelas teri!” nadanya dibuat lebih tinggi.
            “Lalu. . .”
            “Cukup! Saya tidak punya banyak waktu! Banyak pertemuan yang harus saya hadiri,” lantas lelaki itu berlalu begitu saja meninggalkan asap rokok yang terakhir ia hembuskan tepat didepan wajahku.
            Aku tidak mendapatkan info apa pun hari ini. Penjelasan yang diberikan kontraktor itu tidak cukup membuatku puas, justru malah semakin mengacau pikiranku.
            “Anda tidak akan mendapatkan info apa pun mengenai eksekusi ini, mas. Semua dilakukan secara rahasia,” seorang pekerja yang tengah mencampur semen dengan pasir mulai angkat bicara. Aku mendekatinya, berharap ada informasi yang bisa ku dapatkan lebih jelas darinya.
            “Bisakah bapak ceritakan secara detail kejadian sesungguhnya?”
            “Saya tidak tahu apa-apa mas. Kami yang disini tidak akan angkat bicara apa pun mengenai eksekusi ini,” jawab lelaki itu ketakutan. Mimik wajahnya berubah seketika.
            “Saya akan menjamin keselamatan bapak. Saya bicara atas nama keadilan hukum dinegara kita, pak!” lelaki yang mulai mengaduk semen dan pasir itu menghentikan pekerjaannya. Pekerja lainnya pun mengalihkan pandanganya padaku.
            “Baiklah. . .”
            Ia menarik nafas panjang sebelum memulai kesaksiannya, meski tampaknya ia ragu.
            “Saya tidak bisa memberikan banyak informasi, tapi baiklah. . . Sebut saja Pak Narto.  Ia telah berpuluh-puluh tahun bekerja dibawah kontarktor yang tadi sempat mas ajak berbicara. Istrinya menjadi pembantu rumah tangga ditempat kontraktor itu juga. Sebenarnya sudah enam bulan ini, setengah dari gaji kami ditahan olehnya. Emmm, bukan ditahan, tapi dimakan. Uang lembur juga tidak diberikan. Selain Pak Narto, kami semua ini perantau, mas. Kami bekerja secara langsung dibawah seorang kontraktor, karena mandor kami diberhentikan oleh kontraktor itu juga. Ancaman-ancaman selalu menekan kami apabila semua ini terbongkar. Dia itu licik, mas. Pandai memutar balikan fakta. Pak Narto, contohnya. Ia ikut demo saat hari buruh beberapa bulan lalu. Ia mengadu kepada pihak yang bersangkutan mengenai ketidakadilan yang selama ini dirasakannya. Ia ingin membela hak-hak kami. Sebulan setelah demo itu berlangsung, sempat dilaksanakan dua kali pengadilan. Ia menjadikan kontraktor itu sebagai terdakwa. Tapi ia kalah telak. Ia kena skak mat. Dengan bukti-bukti palsu yang beredar dikalangan pengadilan, justru Pak Narto yang malah menjadi terdakwa. Ia tertuduh menggelapkan uang yang kontraktor itu titipkan padanya untuk kami, ia dituduh menggelapkan material-material pembuatan apartemen ini. Padahal. . . Padahal kami tahu, ia tak pernah melakukan ini. Tapi mulut kami dibungkam dengat pistol yang kontrakror itu pernah todongkan pada kami.
            “Yang kami tidak mengerti, alasan dari mana yang kemudian memperkuat bahwa rekan kami itu harus dieksekusi. Dan, satu lagi mas, eksekusi itu akan dilaksanakan tepat nanti malam pukul 00.00. Ada enam tim penembak, dan salah satunya adalah kontraktor itu sendiri. . .”
            Mata lelaki yang bercertia panjang lebar itu mulai berkaca-kaca. Kepalanya menunduk dalam. Hingga seorang rekannya yang lain harus melanjutkan kesaksiannya.
            “Kami memang tidak berpendidikan, mas. Tapi kami tahu, sistem keadilan dinegara kita ini masih jauh dari adil. Banyak orang-orang penting yang mau disuap. Tapi ya mau bagaimana lagi mas, kami juga tidak mampu menyuap mereka. Kesaksian kami dianggap omong kosong.”
***
            Pukul 23.45, ditempat pelatihan penembakan Akademi Militer Angkatan Darat.
            Aku berhasil menempatkan diri tanpa kartu perss lima belas menit sebelum eksekusi dimulai. Aku berada dilantai dua gedung yang mengelilingi tempat pelatihan penembakan itu. Pak Narto tampak pasrah. Ia diletakkan sebagai sasaran dengan mata ditutup kain hitam. Sambil menunggu enam tim penembak, aku mengatur pistolku. Memasukan beberapa peluru. Aku mulai membidik mencari korban yang jantungnya akan ku tembus. Eksekusi ini disaksikan oleh para militer dan seorang keluarga. Istrinya. Aku melihat istri Pak Narto menahan isak air matanya.
            Pukul 23.59. Satu menit lagi eksekusi akan dimulai. Aku telah menemukan sasaranku. Seorang berjas rapi dengan sepatu hitam berkilat diterpa cahaya lampu neon. Enam tim penembak berjajar rapi dihadapan seorang lelaki paruh baya itu. Lima orang berseragam dan satu orang berjas, ya, dialah sasaranku. Aku menghitung mundur dalam hati mendahului mereka. Lima, empat, tiga, dua. . .
            Tiga peluru kuluncurkan sekaligus kearah punggung lelaki berjas itu. Pistol dengan peredam suara ini bekerja dengan baik. Orang-orang sekitar riuh. Lima tim penembak lainnya mengurungkan niat untuk melanjutkan eksekusi. Semua sibuk mengurusi mayat seorang kontraktor licik yang ternyata telah bertahun-tahun menindas para buruh proyek yang bekerja dibawahnya. Aku bergegas meninggalkan tempat. Datang terlambat dan masuk dengan menunjukan kartu perss. Aku telah berhasil mengeksekusi kontraktor itu secara ilegal. Kesaksian para buruh proyek itu ada ditanganku. . .

(Cerpen Harian Joglosemar, 21 April 2013)

0 komentar:

Posting Komentar

prev next