Selasa, 25 September 2018

"Saya Telah Kembali"

Setelah puasa yang begitu lama dari dunia blogger, saya ingin kembali menyapa pembaca. Saya sungguh-sungguh ingin kembali dan tidak akan menghilang dan berpuasa dari blog ini. Apakah selama saya tidak menulis di blog, saya berpuasa menulis? TIDAK. Sama sekali tidak. Saya masih menulis setiap waktu. 
Masih ingat kan, bahwa saya akan menghabiskan sisa hidup saya untuk menulis?
Di luar blog, saya menulis buku, artikel, esai, cerpen, yang karena beberapa hal tidak saya posting dalam blog ini. Saya juga disibukkan menjadi seorang editor.
Dan akhirnya, saya kembali lagi untuk mengisi blog ini. 
Semoga bermanfaat, dan selamat membaca suguhan dari saya.

Weda S. Atmanegara

Kamis, 12 Maret 2015

MENEMPUH JALAN KESUNYIAN: TENTANG SEBUAH PERJUANGAN HIDUP


          

Menempuh jalan kesunyian, itulah yang selalu diucapkan Ajo Kawir, ketika setiap orang menantangnya untuk berduel. Jagoan duel dari kampung Bojong Soang itu belajar dari ‘burung’-nya. Ia tak lagi mengutuki ‘burung’-nya yang tak bisa berdiri seperti saat Ajo Kawir berusia belasan tahun. Lelaki itu kini menjadi seorang supir truk dan menikmati liku jalanan lintas Jawa-Sumatra atau terkadang Jawa-Bali. Kehidupan seorang supir truk yang serba keras harus ia lalui hanya dengan seorang kenek berusia sembilan belas tahun untuk menempuh jalan kesunyian seperti yang dilakukan ‘burung’-nya.

Jumat, 23 Januari 2015

DARI KEJAUHAN: KULIHAT BUDDHA GAUTAMA



            Dari kejauhan, batu di tengah laut itu, tepatnya beberapa meter dari bibir pantai tampak seperti patung Buddha Gautama. Panorama ini dapat kita saksikan di Pantai Nampu, Wonogiri. Saya dan kawan-kawan berangkat dari Yogyakarta pukul 11 siang, dan menempuh perjalanan selama 6 jam, di luar perkiraan awal. Hal ini dikarenakan cuaca yang kurang mendukung dan beberapa halangan yang terjadi di jalan. Hujan menemani perjalanan kami dari Wonosari hingga tiba di lokasi. Kami bersembilan menuju ke lokasi dengan kendaraan bermotor.  

            Untuk menuju Pantai Nampu sendiri, jalanan yang kami tempuh cukup terjal dan naik turun serta beberapa tikungan tajam. Survivor deh pokoknya! Kalau teman-teman pernah naik Jet Coster, nah, seperti itulah rasanya. Terlebih di beberapa daerah kami menjumpai jalanan berlubang. Tetapi teman-teman tidak akan menyesal begitu memasuki perjalanan yang mulai memasuki Pantai Nampu. Sekitar 18 kilo menuju Pantai Nampu teman-teman akan menyaksikan gunung dengan batu karang di sepanjang jalan. Batu itu memiliki rongga seperti halnya batu karang yang terdapat di pantai-pantai.

Senin, 12 Januari 2015

Review


GUBERNUR NYENTRIK DI TANGAN SANGGAR ARCANA: REFLEKSI KRITIK SOSIAL ALA DONGENG

Oleh: Weda S. Atmanegara



       Sama halnya dengan karya sastra yang lain, drama pun memiliki kewajiban untuk menyampaikan pesan kepada para pembacanya. Dalam hal ini, drama dapat menyampaikan pesan melalui sebuah pementasan. Artinya, dari naskah (teks) dibawa ke atas panggung lengkap dengan aktor, setting, lighting dan pendukung pentas yang lain. Melalui pementasan, naskah drama akan lebih mudah menyampaikan pesan kepada para penikmatnya (penonton). Sebab, pementasan tersebut akan melaporkan berbagai macam peristiwa dari naskah yang diangkat menjadi sebuah adegan dengan cara yang khas.

       Membaca naskah Gubernur Nyentrik (Episode: Negeri Para Pelupa) untuk pertama kalinya, saya merasa dilempar pada beberapa adegan yang menurut saya hanya sebagai tempelan dan tidak memiliki penghubung yang baik. Namun di tangan Sanggar Arcana, usai menjalani proses dan menikmati pementasannya, saya merasakan kerja naskah yang sesungguhnya. Beberapa perubahan dan penambahan yang dilakukan dalam penggarapan naskah membantu menghubungkan fragmen-fragmen yang sempat terpenggal dan hanya menjadi tempelan. Meskipun demikian masih ada beberapa titik, peristiwa-peristiwa dalam adegan tersebut masih menjadi fragmen-fragmen yang tidak memiliki jembatan penghubung yang baik. Namun dari hasil pementasan, tampak bahwa Sanggar Arcana telah berusaha menampilkan teks sebagai sesuatu yang dimainkan. 

Selasa, 23 September 2014

PEREMPUAN DI NEGERI FIRAUN DALAM NOVEL PEREMPUAN DI TITIK NOL, KARYA NAWAL EL SAADAWI



            Berbagai masyarakat Arab, seperti juga negeri kita, berada dalam masa transisi, dan juga dalam proses modernisasi. Masalah nilai-nilai tradisional masih merupakan permasalahan yang belum terselesaikan, dan malahan di berbagai masyarakat pada taraf ini terasa seakan-akan amat sulit terselesaikan.
            Salah sebuah masyarakat tradisional yang menjadi bahan perdebatan dan malahan konflik ialah masalah kedudukan dan hak-hak wanita, baik di tengah masyarakat, maupun dalam hubungan langsung antara lelaki dan perempuan secara sosial juga pribadi, baik di dalam mupun di luar perkawinan. Kita dapat mengingat, bahwa perjuangan perempuan Indonesia untuk mendapat kedudukan yang lebih seimbang di dalam lembaga perkawinan telah memakan waktu puluhan tahun, dan baru dapat membawa perempuan Indonesia ke Undang-Undang Perkawinan yang beberapa tahun lampau ini telah diundangkan.

Menyulut Sumbu Kreativitas Mahasiswa Sastra Indonesia




PROSES kreatif penciptaan karya sastra, menulis itu, pada dasarnya merupakan urusan yang soliter.* Mengutip kalimat Prof. Dr. Suminto A. Sayuti di atas, dapat diterjemahkan dengan sederhana, bahwa proses kreatif dalam menulis harus timbul atas kemauan dan kesadaran setiap pribadi. Menulis merupakan nafas utama bagi mahasiswa, khususnya mahasiswa Sastra Indonesia. Sastra yang identik dengan hasil karya sastra sering kali menjadi acuan keberhasilan dalam beberapa mata kuliah. Tidak sia-sia memang, ketika para dosen pengampu mata kuliah tertentu mendorong mahasiswanya untuk menghasilkan sebuah karya sastra untuk menjadi acuan keberhasilan dalam mata kuliah tersebut. Barangkali dengan cara itu pula dapat menyulut kembali sumbu kreativitas mahasiswa Sastra Indonesia yang sebagian besar masih termangu-mangu atau bahkan tidak tahu sama sekali cara menulis karya sastra. Tetapi akan sangat disayangkan apabila tugas tersebut dilaksanakan hanya sekedar menggugurkan kewajiban kita sebagai mahasiswa. Tidak ada sedikit pun evaluasi yang terjadi dalam diri kita, dari niat dosen yang berharap dapat menyulut sumbu kreativitas di kalangan mahasiswa Sastra Indonesia.

PERJALANAN BATIN MEMAHAMI: DIRI SENDIRI, CINTA, DAN NEGARA


       Novel Maya karya Ayu Utami merupakan bagian dari Seri Bilangan Fu, setelah sebelumnya terbit novel besar Bilangan Fu dan dua novel Seri Bilangan Fu, Manjali dan Cakrabirawa serta Lalita. Novel Maya dalam Seri Bilangan Fu yang ketiga ini menghubungkan Seri Bilangan Fu dengan novel dwilogi Saman dan Larung. Tokoh-tokoh dalam novel Maya merupakan tokoh-tokoh besar novel Bilangan Fu seperti Parang Jati, Suhubudi dan tiga tokoh lain yang hadir dari novel dwilogi Saman dan Larung; Yasmin, Saman dan Larung.

Bila dalam novel Bilangan Fu lebih filosofis, seri Maya ini lebih merupakan perjalanan batin untuk banyak pemahaman. Pemahaman akan diri sendiri, cinta, dan negara. Perjalanan batin ini bermula ketika Yasmin menerima tiga pucuk surat dari kekasih gelapnya, Saman, setelah Saman dinyatakan hilang selama dua tahun. Bersama suratnya, aktivis hak asasi manusia itu juga mengirimkan sebutir batu akik. Untuk menjawab peristiwa misterius itu Yasmin yang sesungguhnya sangat rasional dan kurang mempercayai hal-hal mistis datang kepada seorang guru kebatinan, Suhubudi. Di padepokan guru kebatinan yang sekaligus ayah Parang Jati, diketahui dulunya seringkali didatangi oleh Saman yang sebelumnya bernama Frater Wisanggeni. Batu akik itu sendiri, Saman dapatkan dari Parang Jati saat dirinya masih seorang frater.

Minggu, 23 Februari 2014

PENGANTIN BATU


“Bagaimana mungkin kau akan menikahinya?”
            “Aku akan tetap menikah dengannya, apa pun alasannya!”
            “Tapi, tapi perempuan itu. . .” perempuan paruh baya yang tidak lain ibunya sendiri tak kuasa melanjutkan kalimatnya. Anak lelakinya terlanjur membawa perempuan pilihannya pulang. Hal paling tepat yang harus ia lakukan hanya menyediakan kamar pribadi bagi calon menantunya. Anak lelakinya membuat peraturan sendiri untuk kunjungan ke kamar calon pengantinnya itu. Ia akan mengunjungi ketika rembulan tanggal lima belas terbit. Ibunya akan mengunjungi setiap hari untuk memastikan calon menantunya itu baik-baik saja dan merasa betah tinggal di kamar yang ranjangnya berkelambu putih.
            Ibunya akan mengurus semua keperluan calon menantunya. Ia mulai membelikan pakaian dan perlengkapan rias. Ibunya juga yang akan mengenakan pakaian itu dan memandikannya. Meskipun ia tak pernah sepenuh hati melakukannya, tetapi ia akan melakukannya untuk anak semata wayangnya. Sati, seorang pembantu mereka akan mengirim sarapan, makan siang dan makan malam pada jam-jam tertentu serta membersihkan kamarnya. Keduanya seolah melayani seorang putri yang didatangkan dari kerajaan Majapahit.

Kamis, 23 Januari 2014

KARAM

Keperawanan ini telah rayut, sayang. Hanya untuk menunggumu kembali. Menanti hal yang tak pernah ku sadari. Bahwa kau dan aku telah karam dalam perpisahan.

            Hujan kembali mengguyur dermaga senja ini. Hujan kesekian kali yang membasahi tubuh renta dengan rambut yang mulai beruban. Tubuh yang selalu menghadap kebarat setiap kali senja tiba. Menatap mentari yang hampir meninggalkan bumi. Menunggu munculnya kapal yang membawa seseorang setelah matahari ini tenggelam. Mungkin para pelayar yang bekerja di dermaga ini telah hafal akan bahasa tubuhku. Bahasa tubuh yang telah rayut dalam penantian. Bahkan dibawah hujan yang tak kunjung reda ini, ku relakan tubuhku tetap bertahan dibawah payung hitam yang suatu saat nanti akan memayungi kematianku. Kematian dalam kesepian yang tak kunjung usai.
            Aku teringat beberapa puluh tahun lalu saat menonton pemantasan teater Rendra dengan lakon Kereta Kencana, disebuah Auditorium Universitas Petra, Siwalankerto, Surabaya. Aku dan dia memilih duduk dibaris ketiga. Ia menggenggam mesra tanganku. Meremas lembut jemariku. Lima belas menit lagi, tepatnya pukul 19.00 pementasan yang kami tunggu akan segera dimulai.

Selasa, 21 Januari 2014

PULANG

            Aku menghitung mundur detik-detik kepulangannya. Aku menghitung mundur hari-hari yang kian sempit untuk ku lalui bersamanya. Aku menimang sebuah tanggal dan hari yang telah menyambutnya. Pulang.
***
            Jingga telah berkilat memenuhi cakrawala. Sang bidadari yang telah menyengat seharian tadi mulai meredup, membulat dan melangkah mundur secara perlahan menuju langit barat. Ia masih mengintip malu menyaksikan burung layang-layang yang juga terbang ke barat menuju sarangnya. Membentuk formasi yang berubah-ubah. Saling menggoda pasangannya.

Senin, 20 Januari 2014

KANIGORO


            Bukan Mbah Reso bila tidak memakai celana kain kolor komprang dan baju hitam seperti seorang warok dengan kaos putih didalamnya. Usianya telah mencapai delapan puluh delapan tahun. Usia yang kebanyakan orang telah mengalami sakaratul maut atau mulai sakit-sakitan dan tinggal menunggu jemputan ke alam baka. Tapi Mbah Reso lain. Ia memulai hidup sehat dengan menyulut rokok setiap pagi sebagai sarapan empat sehat lima sempurna. Rokok lintingan yang biasanya ia racik sendiri. Ia akan duduk di depan padepokannya mulai pukul enam hingga pukul sembilan pagi. Dalam tiga jam itu ia akan meninggalkan puluhan putung rokok lintingan di sekitar ia duduk. Setelah jam-jam itu biasanya akan ada anak-anak kecil yang main ke padepokannya dan memunguti sisa putung rokok Mbah Reso.
            “Buat apa, le?”
            “Dolanan, mbah.”

Minggu, 05 Januari 2014

METAFORA

I
Melihatmu di kepung gedung-gedung tua kampus, maka tampaklah
olehku matahari terbit dari balik pundakmu. Meski sebenarnya
jam telah mengantar matahari tepat di atas ubun-ubun.
Aku masih bisa merekammu dari ketinggian lantai tiga.
Masih bisa ku sibakan debu yang menghalangi pandanganku.
Di ketinggian lantai tiga, di antara dua mataku yang terluka menatapmu,
memenjarakan tubuhmu dalam kornea mataku,
masih bisa ku sebut namamu dalam hati yang memar ini.
Tanpa ku harus turun dan menepuk bahumu, ketinggian lantai tiga ini
masih menampung tubuhku untuk tak terjatuh dihadapanmu.

Minggu, 15 Desember 2013

DI DEPAN PINTU RUMAH


             Di depan pintu rumahku, aku terduduk menghadap seorang gembala yang sedang menggiring angin. Jauh dua meter di hadapanku, ia menghalau lima belas ekor domba yang harus ku hitung dengan lima kali kesalahan. Pertama, aku menghitungnya ada sebelas ekor. Tetapi aku tidak yakin, lalu ku ulangi kembali, domba itu menjadi sepuluh ekor, lebih sedikit, tidak mungkin pikirku. Ketiga kalinya, aku menghitung ada dua belas ekor. Aku mohon tenanglah domba-domba yang sedang ku hitung! Aku di buat gemas oleh domba-domba yang dari jarak dua meter tampak seperti bongkahan kapas berterbangan. Mereka berlari semaunya memburu dimana ada rumput yang rekah. Keempat kalinya, aku menghitung domba itu kembali berjumlah sebelas. Kali ini kesalahan di buat oleh si penggembala, ia mengahalangi pandanganku. Ia menghalau domba-domba supaya mereka berada dekat dengan tuannya. Curang, pikirku. Penggembala itu duduk di bawah sebuah pohon beringin rimbun, sementara ia tak mengijinkan domba-dombanya menuju kebun jagung yang berada agak jauh untuk mencari tempat teduh yang rumputnya lebih rekah, barang sejenak. Sudahlah, akan ku lanjutkan hitunganku untuk kelima kalinya, domba itu berjumlah empat belas. Aku mohon tenanglah domba-domba yang sedang ku hitung!
            Ku alihkan pandanganku sejenak pada si penggembala, sambil menunggu domba-domba itu tenang. Ia seorang remaja tanggung bertopi hitam. Duduk memeluk lutut sambil mambawa sebuah ranting di tangan kirinya. Ia menunggui domba-dombanya yang sedang merumput dengan khikmat. Ia diam seperti sedang membujuk para rumput untuk segera tumbuh kembali, supaya esok hari ia bisa kembali mengantar domba-dombanya untuk merumput. Domba-domba itu sudah tenang. Mereka diam dalam formasi yang sempurna, sehingga aku yakin hitunganku kali ini tidak akan salah. Ya, ada lima belas ekor domba. Bahkan aku bisa melihat lima ekor domba bertanduk dan empat ekor domba kecil. Mereka tampak manis sekali. Bongkahan-bongkahan kapas itu menikmati santap sorenya dengan nikmat.    
            Di depan pintu rumahku. Aku masih duduk di sana di temani dua ekor kucing yang sedang tidur melingkar. Dua buah pesawat telah lewat, sepanjang dua jam aku duduk di depan pintu rumah.
            “Ken, masuklah! Aku telah menyiapkan air hangat untukmu. Mandilah!”
            “Sebentar Mary, aku sedang tidak ingin melewatkan domba-domba dan pesawat yang dapat ku lihat dari depan pintu rumahku ini. Mungkin sebentar lagi akan ada sesuatu yang lain.”
            “Kau bisa melihatnya kapan saja Ken. Sekarang mandilah!”
            “Apakah kau bisa menjamin aku bisa menikmati pemandangan ini kapan saja?” kali ini aku meninggikan suaraku. Tidak ada jawaban. Mary memilih kembali ke dalam dan membiarkanku duduk di depan pintu rumah dengan dua ekor kucing yang masih tidur melingkar di bawah kakiku.
            Ada pesawat lagi. Kali ini aku menangkap deru suaranya dengan jelas. Melihat tubuhnya yang di hiasi lampu merah di bawah sayapnya. Ia melintas tepat di atas domba-domba yang masih asyik merumput. Deru suaranya mengusik seekor domba kecil sehingga ia tampak berlarian berlindung di bawah ketiak induknya. Lalu ia pun menyusu. Aku tersenyum. Kantong susu itu dapat menenangkan dalam segala suasana. Telingaku masih menangkap deru pesawat, meskipun tubuhnya telah ditelan gumpalan putih diatas sana. Tetapi sepertinya aku masih melihat para penumpang yang selalu ingin tahu keadaan di luar jendela yang tak boleh di buka itu. Mereka ingin sekali menyaksikan tubuh-tubuh mungil yang sedang menyentuh tanah. Termasuk aku dan domba-domba, juga penggembala itu. Aku melihat mereka meninggalkan jejak kenangan di kota sebelumnya, membiarkan burung bermesin itu menerbangkan mereka ke tempat lain.
            “Ken, mandilah!”
            “Aku sedang menghitung seberapa banyak kenangan yang orang-orang itu tinggalakan di kota sebelumnya, sebelum mereka naik pesawat untuk pergi ke kota lain.”
            “Itu bukan urusanmu Ken! Urusanmu sekarang adalah mandi!”
            “Sebentar Mary, aku tidak mau melewatkan pesawat dan para panumpangnya.”
            “Kau teringat sesuatu Ken?” kali ini Mary memegang bahuku. Mataku menyapu permukaan langit.
            “Ken?” Mary kembali memanggilku lembut.
***
             Setidaknya kita pernah melewati banyak hal di depan pintu rumah ini. Kita pernah duduk berdua sambil memangku kucing-kucing kita. Aku memangku kucing berwarna putih dan kau memangku kucing yang berwarna hitam. Di depan pintu rumah ini, kita duduk berdua sambil menghitung burung layang-layang yang dulu singgah di hamparan sawah yang sekarang telah menjadi kebun jagung. Domba-domba itu dulu berjumlah tiga belas ekor. Penggembalanya seorang anak kecil yang selalu telanjang dada.
            Di depan pintu rumah ini, kita bersama-sama mengukir nama kita dalam sebuah tiang kayu yang menyangga atap teras rumahku. Kayu itu sudah mulai lapuk termakan usia, tapi nama kita masih ada.
            “Maukah kau ku buatkan secangkir kopi robusta?” kau mengangguk sambil tersenyum ke arahku.
            Kita selalu duduk di depan pintu rumah ini sambil menikmati secangkir kopi robusta buatanku dan setoples biskut cokelat kesukaan kita. Sambil menunggu anak gembala menghalau domba-dombanya untuk pulang. Sambil menunggu bangau-bangau itu pulang ke sarangnya. Tetangga-tetangga selalu hafal dan melambaikan tangannya ketika lewat di hadapan kita.
            “Andy?”
            “Ya, Ken.”
            “Aku ingin selalu duduk disini bersamamu. Sambil menimang anak-anak kita, kelak. Mengenalkan dan mengajari mereka menghitung domba-domba itu.”
            “Tentu, Ken”, jawabmu sambil merapatkan diri padaku dan memelukku.
            Pernah suatu ketika kau tak menemaniku duduk di depan pintu rumah ini. Tetangga-tetangga itu mengerutkan wajah bertanya-tanya, dimana kamu. Penggembala kecil sesekali melemparkan tatapan asing padaku. Tatapan yang tak pernah ku kenal, selama kita selalu duduk berdua dan membalas lambaian anak gembala  itu setiap kali ia lewat. Tetapi aku tetap menyediakan dua buah cangkir kopi robusta dan setoples biskuit cokelat kesukaan kita. Barangkali kau tiba-tiba datang dan menemaniku lagi. Kopi milikmu ku biarkan dingin dan tak terminum. Begitu seterusnya. Aku tak bisa lagi menghitung berapa banyak kopi yang terbuang sia-sia. Mary selalu membereskan tanpa harus ku suruh lagi.
***
            “Ken, apa kau mengingat sesuatu?” Mary kembali menanyaiku lembut.
            “Aku membayangkan ia melambaikan tangan dari pesawat itu.” Mary memelukku erat.
            Penggembala itu lewat di hadapanku. Ia melambaikan tangan sambil tersenyum padaku. Aku hanya membalasnya dengan senyum tipis.
            “Siapa penggembala itu?”
            “Dia penggembala kecil yang dulu selalu bertelanjang dada.”
            Aku baru sadar. Aku telah lama duduk di depan pintu ini, sambil menunggui kopi robusta yang sudah dingin dari tadi.
            “Mandilah!”
            Aku mengalah dan masuk ke dalam untuk mandi, bersamaan dengan telepon yang berdering. Aku bergegas menyambar gangang telepon itu. Pembicaraan yang singkat dari seberang.
            “Bersiaplah Mary, kita akan ke bandara menjemput seseorang.”

Jogja, 31 Oktober 2013
:mengiringi kepulanganmu yang kedua kalinya, Andy:

(“Di Depan Pintu Rumah” Minggu Pagi, 6 Desember 2013)

Rabu, 28 Agustus 2013

ARLOJI




Kepergianku dari rumah itu tidak membuatnya semakin baik. Padahal aku dengar sendiri, bahwa ia yang memintaku untuk mengangkat kaki dari rumah ini. Tapi aku tahu, ia hanya seorang nenek yang tidak ingin kesepian menjalani detik-detik terakhir hidupnya. Ia menginginkan cucu-cucunya, anak-anaknya dan menantu-menantunya berkumpul mengelilingi ranjang tempat ia berbaring. Ia ingin mereka menjamunya pada pagi hari dengan segelas susu hangat dan roti untuk sarapan. Ia ingin mereka merebus air hangat dan memandikannya pada sore hari. Tetapi yang ia dapati setiap pagi hari hingga menjelang tidur malam hanyalah aku, seorang menantu yang teramat ia benci.
            “Apa kamu tidak dengar Surti, aku memintamu untuk pergi!” suaranya yang tua terdengar ketus dan bergetar.

Minggu, 21 Juli 2013

CATATAN HUJAN



            Digenggamnya tangan seorang gadis disampingnya. Terasa dingin dan lemas. Mereka berdiri disebuah halte, ditengah hujan yang mengguyur kota senja ini. Aku tersenyum melihat kebersamaan mereka. Pemuda itu rasanya labih pantas bersanding dengan gadis disampingnya.
            Beberapa tahun silam ketika ia masih seorang gadis kecil, aku pernah memeluknya dalam kedamaian. Ia terlihat sangat ceria bermain dibawah airku yang menyejukkan. Tubuh mungilnya menari-nari, berputar-putar tanpa lelah bersamaku. Hingga ketika tiba saatnya aku untuk pulang, ia menangisi kepergianku.
            “Hujaaan. . .apa kau tak lagi menyayangiku? Aku masih ingin bersamamu,” tangis gadis itu ketika aku pergi darinya.
            Ia tak pernah membenci kehadiranku. Dan membuatku merasa nyaman ketika menari bersamanya. Gemericik airku menjadi lantunan melodi yang mampu memikat hatinya. Wajah paling sejuk yang pernah meneduhkan keberadaanku.  Bias-bias mentari pun bersembunyi, tak akan berani mengusik kebersamaanku dengan gadis kecilku sayang. Desahan angin memeluk mesra raga kami. Pelangi tersimpul bersama warnanya, menghias kemesraan ditengah gerimisku. Tapi itu dulu, sebelum gadis kecil ini beranjak menjadi seorang gadis remaja.
            Sekuntum mawar tampak merekah berwarna merah, menebar pesona aroma khas yang amat menggiurkan. Butiran embun masih tersimpul diatas mahkotanya. Aku hadir seperti biasa menyapa gadis kecilku yang kini telah beranjak remaja. Paras jelitanya berseri dibalik jendela kamarnya. Manatapku tanpa kata. Ku coba bisikan sesuatu padanya agar ia keluar dan menari bersama guyuran airku.
            “Ah. . .kenapa hujan ini tak juga reda?” desahnya lesu.
            Aku tak percaya gadis itu kini membenciku. Aku kecewa. Padahal aku hanya sekedar gerimis untuk menyapa paginya. Aku mengalah. Ku biarkan mentari kembali merekah dari balik selimut mendungnya. Aku bergegas menghapus langkah dan berniat kembali senja nanti. Dibalik celah-celah awan, kini gadis itu keluar rumah dengan senyum menawan. Kini ia mencintai mentari, melupakan ku yang pernah damai bersamanya.
            Senja yang ku nanti pun hadir. Mentari menyapa dibalik peraduanku, meminta agar aku kembali menyapa gadis pujaanku. Buritan angin mengiringi langkahku mencari keberadaannya. Bayangan senja perlahan mulai terhapus dengan kedatangan gerimisku. Gerimis kecil yang hampa, merindu hadirnya sosok yang pernah damai bersamaku. Bersama gemericik airku yang pernah menjadi melodi disetiap langkah mungilnya. Lama aku mencari, namun tak kunjung ku jumpai. Rangkaian potret gadis kecil itu kembali terekam jelas dalam bayang airku. Mengusir hampa yang tengah ku rasa, menyisir rindu dalam kalbu.
            Ku percepat langkahku menyapu debu yang ku jumpai. Aku ingin bermain bersamanya seperti dulu. Tepat di sebuah taman, mataku tertuju pada sosok yang sejak tadi ku cari. Gadisku. Ia tengah bercanda mesra bersama seorang pemuda tampan yang ada dihadapannya. Aku terdiam. Api cemburu menyulut perlahan membara dalam kalbu. Percikan-percikan benci semakin besar menindas batinku.
            Tanpa peduli hal buruk yang akan menimpa, ku ubah gerimisku menjadi hujan lebat  yang siap meluluh-lantahkan apa pun yang ku lalui. Buritan angin yang penuh kemesraan berubah menjadi badai. Seakan mendukung amarahku saat ini. Aku tak peduli, aku hanya ingin pemuda itu lenyap dari pandanganku tanpa sisa. Aku melihat keduanya lari menuju gubug kecil yang ada di ujung taman untuk berlindung. Sang pria berlari dibelakang gadisku. Aku terus menyerang pria itu dengan amarahkku. Namun, sebelum sempat keduanya sampai digubug kecil itu, tiba-tiba. . .
            “Bruuuk!” sebuah pohon roboh dan menimpa pria tampan yang berhasil menyulut api cemburuku. Aku tersenyum penuh kemenangan. Badai dan hujanku mereda, berganti gerimis kecil yang akan kembali bersapa mesra dengan gadisku.
            “Junaaa…!” teriak gadisku pilu. Ia menghampiri dan duduk disamping pria yang ku dengar bernama Juna. Ia menangis disampingnya sementara orang-orang mulai berdatangan untuk mengangkat pohon yang menimpa tubuh pria itu. Sebuah ambulance pun telah bersiap membawa Juna yang tak sadarkan diri menuju rumah sakit.
            “Hujaaaan…kamu jahat!” pekik gadisku lagi. Aku tersentak mendengar teriaknya. Ia marah padaku. Aku tak menyangka ia begitu menyayangi pria itu. Aku masih terpaku bersama gerimisku, manatap Rinai, gadisku sayang yang meninggalkanku sendiri demi pria bernama Juna itu. Aku tak lagi berguna dimatanya. Entah, ataukah ia yang terlalu ingin melupakan masa kecilnya bersamaku. Masa kecilnya yang selalu merindukan kehadiranku, manari dibawah gerimisku. Aku pun mengalah dan memutuskan beranjak dari tempatku dengan kecewa yang tak terkira. Menghentikan gerimisku, seiring petang yang mulai bertandang.
            Hari ini ku biarkan mentari berseri dengan kehangatannya. Aku tak ingin lagi kembali untuk mengulang masa lalu bersama gadisku. “Hujan, lihatlah! Rinai termenung dikamarnya. Mungkin ia tengah merindukanmu,” bisik mentari kepadaku. Aku hanya diam di balik awan tanpa mau keluar sejenak untuk memandang Rinai.
            “Kau salah mentari. Ia justru membenciku. Ia tengah merenungi keadaan kekasihnya, Juna, yang kemarin ku timpa denagn amarahku,” jawabku kecewa. Mentari hanya mendesah kecewa mendengar jawabku. Ia segera berseri kembali sambil memantau keadaan Rinai yang masih termenung di jendela kamarnya. Aku hanya bisa memendam kecewa di balik awan. Ku renungi segala kasalahanku yang telah membuatnya membenciku. Segala potret kebahagiaan hingga amarah Rinai kembali terfokus dalam memoriku. Perlahan, rasa sesalku menyelinap di balik kalbu. Tak seharusnya aku mengusik kebahagiaannya. Mengusik kebahagiaan bersama orang yang dicintainya. Kini aku gelisah, merasakan betapa bencinya Rinai kepadaku. Aku tak ingin semakin melukai hatinya dengan terus bersembunyi dibalik peraduanku.
             Malam bertandang bersama kehangatan sang purnama. Bias-bias cahaya menembus celah-celah dedaunan sambil mengintip malu pada sosok yang tengah duduk ditaman menikmati lengangnya suasana malam ini. Kuintip dari balik peraduanku, seorang gadis bermandi cahaya purnama menulis sesuatu diatas kertas yang ada ditangnnya. Aku tak ingin megusiknya. Kubiarkan gadisku menari bersama penanya dibawah pelukan rembulan. Aku cukup bahagia memandangnya dari kejauhan. Ia masih memendam amarah padaku, sehingga aku cukup mengerti untuk kembali menyentuh hatinya.
            Setelah ia selesai dengan tulisannya, ia hanya meninggalkan begitu saja. Ia lalu masuk ke dalam rumahnya. Rasa penasaranku memubuncah. Perlahan cahaya rembulan meredup, berganti dengan gemericik airku yang mengiringnya ke dalam pangkuan mimpi. Ku baca selembar kertas yang ditinggalkannya tadi. Tinta emas menyapaku, berisi kutipan sendu gadisku.
            Hujan…
Kau tak seperti dulu. Kau jahat. Kenapa kau lakukan ini pada Rinai? Rinai selalu menyayangi hujan. Tapi hujan, mengapa kau tega pisahkan Rinai dengan orang yang Rinai cintai? Hujan, kebersamaan kita bukan berarti menghalangi Rinai untuk menemukan cinta dalam hidup Rinai.
            Guyuran airku semakin deras usai membaca suratnya. Aku salah. Rinai selalu menyayangiku. Tapi kini semua ternoda dengan ke egoisanku. Aku terus memantaunya yang tak juga terpejam diatas pembaringan. Perlahan butir bening dimatanya mengalir deras. Menggelayut di ujung dagu dan menetes perlahan membasahi selimut malamnya. Aku menatap pilu dari balik jendela. Sepanjang malam, kuguyurkan airku menemani malamnya. Berharap Rinai kan tahu, betapa hujan juga menyayanginya. Ku buat gemericik airku semerdu mungkin, menjadi melodi malamnya, agar ia segera terlelap menyandarkan pilunya.
            Setahun berlalu. Namun ia masih larut dalam bayangan Juna. Cinta pertamanya yang sempat ku renggut. Ia juga selalu menulis surat untuk ku, meluapkan rasa kecewanya terhadapku. Surat itu hanya ia tinggal ditaman dan ku guyur dengan airku, hingga tinta diatasnya pudar bersama segenap sesalku. Aku tak pernah berani turun kecuali pada malam hari. Aku tak ingin mengusik damainya bersama mentari. Aku hanya hadir menjemput malamnya. Ketika ia terlelap diperaduan mimpinya, sehingga ku tak pernah memandang paras jelitanya dengan jelas.
            Malam ini kembali aku menjemput Rinai diatas pembaringannya. Ia sudah terlelap. Dan di tempat yang sama, aku kembali menemukan sepucuk surat.
            Hujan. . .
Rinai sakit. Rinai tak kuat lagi berlama-lama di bawah guyuran airmu. Rinai tak kuat lagi berlama-lama untuk menemanimu. Maka dari itu, Rinai tak ingin melihatmu setiap saat. Tapi, bukan berarti Rinai membenci hujan. Maafkan Rinai, hujan!
            Untuk kesekian kalinya aku kembali disadarkan dengan kasih sayang Rinai terhadapku. Aku pun kembali teringat ketika ia di vonis mengidap paru-paru basah yang kronis. Ia tidak akan tahan berlama-lama dibawah guyuran airku yang amat dingin ini. Tapi mengapa baru hari ini aku mengingatnya? Mengapa aku tak disadarkan sajak dulu? Bukankah ini sudah terlambat?
            Rinai gadisku sayang, Rinai yang seharusnya mendampingi hujan, kini hanya bisa memandang hujan dari balik jendela dan mimpinya. Malam ini ku coba menyelinap di bawah alam sadarnya dengan mengintai dunia mimpinya. Disana, aku melihat Rinai tengah menari dengan riangnya dibawah airku. Ia tertawa, berputar, sama seperti ketika ia masih seorang gadis kecil dahulu. Kami saling berbagi kebahagiaan, hingga munculah seorang pria berpayung hitam menghampiri kami. Ia mengusik kebersamaan kami.
            “Ayo berteduh Rinai! Ini sangat dingin, nanti kamu sakit!” ucap pria itu.
            “Nanti Juna! Aku masih ingin disini bersama hujanku,” tolak Rinai.
            “Rinai, ayo sayang. . .!” bujuk pria bernama Juna itu.
            Akhirnya Rinai pun mengalah. Rinai pergi bersama Juna dengan payung hitamnya. Seperti. . .seperti payung kematian yang diantarkannya untuk menjemput Rinai. Ku tepis pikiran buruk ku. Aku pun bergegas pergi dari mimpinya dan  kembali tak menjumpai Rinai dalam waktu yang panjang. Aku lelah menghadapinya. Bahkan aku tak pernah lagi membaca suratnya, meski surat itu selalu ada dibangku taman samping rumahnya.
            Dan senja ini, aku benar-benar merindukan Rinai. Lalu aku pun turun dan menghampiri rumahnya. Tapi kali ini ia tak memandangku dari balik jendela kamarnya. Aku terus menantinya sampai aku benar-benar bisa melihat paras jelitanya. Guyuran airku benar-benar terasa hampa. Merindu sosok yang lama tak ku jumpai. Wajah senja masih menghadirkan kabut yang menambahkan aroma dingin bersama guyuran airku. Bulir airku jatuh diatas mahkota mawar. Ia tersenyum penuh keanggunan. Mengingatkanku pada Rinai yang menyelinap dibalik kalbuku.
            Ku edarkan pandanganku menyapu sekeliling taman. Sepucuk surat diatas bangku kembali menggetarkan hatiku. Apa lagi yang dituliskan Rinai untukku?
            Hujan. . .
Aku merindukan damai bersamamu. Rinai ingin hadir dalam pelukan hujan. Tapi hujan, setiap kali Rinai meliahatmu hadir, itu hanya menyakitkan bagi Rinai. Rinai tak bisa bermain lagi bersama hujan. Tak bisa lagi memeluk hujan. Hujan, kini saatnya Rinai pergi. Rinai akan pergi ke suatu tempat, dimana Rinai tidak akan berjumpa lagi dengan hujan. Maafkan Rinai, hujan!
            Aku tertegun membaca suratnya. Tak lama kemudian, keluarlah Rinai dari dalam rumahnya dengan membawa payung hitam, seperti yang ada dalam mimpi. Ia menembus airku yang telah berubah menjadi gerimis. Ia tak membawa apa pun selain jaket hitam dan celana jeans hitam yang melekat ditubuhnya. Ku ikuti langkahnya. Dan ia pun berhenti disebuah halte. Entah, ia akan kemana. Tiba-tiba datanglah seorang pria berpakaian serba hitam. Ia berdiri disamping Rinai dan menggenggam erat tangannya. Ku rasa Rinai tak menyadari keberadaan pria itu. Tatapan Rinai terasa kosong memperhatikan gerimisku yang berjatuhan diatas aspal. Wajahnya mulai pucat kedinginan. Bibirnya menggigil. Tapi aku tak ingin menghentikan hujanku sebelum aku tahu kemana pria itu akan membawa Rinai pergi.
            Lalu sebuah bus berhenti dihadapan mereka. Dengan segera aku turun mendekat dan mengubah gerimisku menjadi hujan. Ku tatap lekat-lekat pria yang  mengikuti Rinai masuk ke dalam bus. Sosok pria yang tak asing lagi dimataku. Aku masih tak percaya semua akan berlalu begitu cepat. Pria itu, payung hitam itu, surat terakhir itu, benar-benar akan menjemput Rinai ke suatu tempat dimana dia tidak akan berjumpa hujan. Tak ada yang bisa ku perbuat. Aku terlambat untuk menjemput Rinai kembali kedalam pelukanku. Aku hanya mengurai air mataku bersamaan dengan semakin derasnya hujan yang ku guyurkan.
            “Juna, kau berhasil menjemput Rinai kembali. . .!” lirihku dalam tangis.


(Cerpen CampusMagz, Januari 2012)

Rabu, 10 Juli 2013

WS Rendra


GADIS DALAM PUISI


            Bahasa tubuhnya adalah puisi. Rambutnya, matanya, senyumnya, gemulai tubuhnya, adalah puisi. Kulukiskan semuanya penuh pesona. Malam di bawah naungan rembulan, aku mengurai pesonanya di atas selembar kertas. Dengan pena bertinta emas, kugoreskan sajak indah untuk gadisku dalam puisi. Kuberkeluh-kesah bersama sajak-sajak malam. Berbisik rindu penuh kemesraan. Semilir angin berdesau menelisik sela telinga. Bermain, mengirimkan sajak-sajak agar sampai kepada gadisku.
            Terus kutuliskan pesonanya tanpa terlewatkan. Menerawang jauh pikirku menuju sosok gadis dalam puisi. Aku tak urung dengan perasaanku. Bagiku inilah keindahan yang sempurna. Yang tertuang dalam sebuah sajak sang pujangga. Lukisan gadis dalam puisi, yang membuat malam seperti tertawa saat aku menuliskan tentang gadis itu. Namun malam masih melindungiku dalam nuansa semilir angin mesra yang di kirimnya padaku.

Senin, 08 Juli 2013

EKSEKUSI


            Dua hari lalu aku masih menyaksikan lelaki paruh baya itu mengayuh sepedanya menuju tempatnya bekerja. Ia seorang buruh proyek yang bekerja dibawah seorang kontraktor yang saat ini sedang menyelesaikan sebuah proyek gedung pencakar langit, yang nantinya akan dijadikan sebagai apartement. Sejauh pengamatanku, apartement yang terletak diseberang tempat kerjaku itu sudah setengah jadi. Lantai satu dan dua sudah mulai ditempati oleh orang-orang pendatang.
            “Kau harus menghadiri eksekusi seorang buruh proyek itu! Kita tidak boleh melewatkan satu pun dari berita ini! Kau bisa menjadikannya head line news untuk edisi yang akan terbit lusa,” seorang pimpinan redaksi memerintahku terjun ke lapangan untuk mengupas lebih jauh lagi mengenai eksekusi yang dijatuhkan pada seorang buruh proyek itu.

Kamis, 04 Juli 2013

PERKEMBANGAN CERITA PENDEK 1960-1970-AN



PERKEMBANGAN CERITA PENDEK INDONESIA ANGKATAN 1960-1970-AN







Oleh: Weda Sasmita Atmanegara
NIM: 12210141018
Mata Kuliah : Sejarah Sastra
Dosen Pengampu: Drs. Maman Suryaman, M. Pd
Program Studi: Bahasa dan Sastra Indonesia
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Ujian Akhir Semester Mata Kuliah Sejarah Sastra







FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2013

Sekapur Sirih

            Cerita pendek (cerpen) Indonesia merupakan sebuah genre sastra modern yang mulai berkembang pada dekade tahun 1930-an. Sangat menarik untuk dicatat bahwa dua orang perintis penulisan cerpen Indonesia, yakni Muhammad Kasim dan Suman Hs menulis cerpen yang jujur, segar, jernih dan sederhana. Efek tertawa gembira adalah tujuan yang hendak mereka capai dengan cerpen-cerpennya. Mereka banyak mengambil tokoh-tokoh rakyat biasa yang bodoh, yang dijadikan bulan-bulanan untuk berseloroh. Untuk lelucon-leluconnya itu, M. Kasim dan Suman Hs mencari segi-segi humor dalam kehidupan sehari-hari. Mereka sebenarnya menimba dan melanjutkan cerita-cerita lisan seperti Si Kabayan atau Demang Kedangkrang.
            Dalam perkembangan selanjutnya, sistem konvensi sastra yang sudah dirintis jalannya oleh M. Kasim dan Suman Hs ini tidak dilanjutkan oleh pengarang-pengarang lainnya. Dalam sejarah cerpen Indonesia hanya sekali itu timbul jenis cerita yang demikian: cerita yang penuh humor, optimis dalam kehidupan, dan yang mengangkat dan melanjutkan tradisi cerita rakyat tradisional.
            Dengan lenyapnya pengaruh cerita-cerita M. Kasim dan Suman Hs, maka lepaslah pula mata rantai penghubung dengan cerita rakyat tradisional nusantara. sebaliknya mulailah tradisi penulisan cerpen menurut konsep Barat, yang berorientasi pada masalah-masalah sosial maupun kedalaman ide pemikiran. Ini berarti, model cerita ‘asli’ itu tidak memasuki arus utama cerpen Indonesia, tidak menjadi ‘official’.
            Disamping itu, konvensi-konvensi sastra tidak pernah kaku dan statis melainkan selalu dalam proses perubahan dan pengembangan. Perubahan dapat terjadi secara internal, karena keinginan mencari pengucapan baru, menciptakan kejutan baru; tetapi juga yang bersifat eksternal, yakni disebabkan oleh perubahan sosial, intelektual, dan perubahan budaya lainnya (Wellek, 1989: 361). Perubahan-perubahan ini sesuai dengan hakikat pelembagaan sebuah genre sastra, yang berproses secara lamban untuk menjadi genre yang ‘official’ (Guillen, 1971: 125). Maksudnya, genre tersebut mendapat sambutan dari masyarakat sastra. Jika sambutan ini diberikan maka jenis itu telah menduduki arus utama tradisi sastra, menjadi ‘inner circle’. Jika tidak, maka ia berada di lingkaran luar sebagai arus pinggiran yang tidak pernah berhasil masuk ke lingkaran inti.
            Dalam bidang cerpen, tampak bahwa tradisi penuturan cerpen yang berakar dari khasanah sastra tradisional Indonesia yang bercirikan jujur, segar, jernih, optimmis dan sederhana tidak memasuki arus utama penulisan cerpen Indonesia modern, tidak menjadi ‘official’. Di lain pihak, tampak bahwa perkembangan cerpen dalam sastra Indonesia modern lebih cepat, dan lebih gampang pula menerima kebaruan-kebaruan yang asing.







Penulis


















Pembahasan Cerpen Angkatan 1960-1970-an

            Dalam simposion sastra yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan sebuah prasarana tentang ‘Sumbangan Angkatan Terbaru Sastrawan Indonesia kepada Perkembangan Kesusastraan Indonesia.’ Dalam prasarana itu dicoba untuk mencari ciri-ciri yang membedakan Angkatan Terbaru dengan Angkatan ’45.Dan dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1963, Nugroho Notokusumo dalam ceramahnya yang berjudul “Soal Periodisasi dalam Sastra Indonesia”, mengemukakan bahwa memang ada periode baru sesudah tahun 50 yang tidak lagi bisa dimasukan ke dalam periode sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada periode 1950 adalah mereka yang mempunyai sebuah tradisi Indonesia sebagai titik-tolak. Sifat imitatif dari Belanda atau Eropa, melainkan ke seluruh dunia. Ditambah pula oleh penghargaan yang wajar kepada sastrawan-sastrawan.
            Para cerpenis angkatan tahun 1960an ini sebenarnya masih berkaitan dengan cerpen angkatan sebelumnya (angkatan 50-an). Seperti halnya cerpenis Ali Akbar Navis atau lebih dikenal dengan AA. Navis, yang menerbitkan kumpulan cerpennya berjudul Robohnya Surau Kami pada tahun 1956. Kumpulan cerpen AA. Navis selanjutnya berjudul Hujan Panas yang terbit pada tahun 1964 dan Bianglala yang terbit pada tahun 1964. Pada umumnya cerpen-cerpen Navis padat dan mempunyai latar belakang sosial psikologi yang luas. Banyak pula yang merupakan sindiran akan tingkah laku dan keimanan tokoh-tokohnya. Navis banyak mengeritik orang-orang yang melakukan syari’at agama (Islam) secara membuta dan taklid saja, karena menurut dia Islam harus dihayati secara rasionil dan penuh rasa perikemanusiaan. Berdasarkan buah tangannya yang nyata banyak mempersoalkan masalah-masalah keimanan dan keagamaan Islam, pantas benar Navis disebut sebagai seorang pengarang Islam.
            Trisnojuwono sudah mulai menulis cerpen-cerpen picisan pada tahun lima puluhan awal. Tetapi baru pada tahun 1955 cerpennya muncul dalam majalah sastra. Ia meninggalkan penulisan cerpen-cerpen picisannya dan mulai menulis secara sungguh-sungguh. Kumpulan cerpennya yang pertama Laki-Laki dan Mesiu (1957) mendapat hadiah sastra nasional dari BMKN. Tahun 1957-1958 kumpulan itu memuatkan kisah-kisah revolusi yang sebagian besar berdasarkan pengalaman-pengalaman sendiri. Cerpen –cerpen Trisnojuwono menarik karena ia melukiskan manusia dalam situasinya lengkap dengan ketakutan, nafsu berahi, kelemahan dan kekuatannya. Kumpulan cerpennya yang kedua berjudul Angin Laut (1958) tidak begitu meyakinkan. Kumpulan cerpennya yang berikutnya berjudul Di Medan Perang (1961) nilainya labih baik. Terutama cerpen Di Medan Perang yang dijadikan judul kumpulan ini sangat kuat dan mengesankan. Tak kelirulah kalau menganggap cerpen ini sebagai cerpen terbaik yang pernah ditulis oleh Trisnojuwono. Buku kumpulan cerpen terakhirnya ialah Kisah-Kisah Revolusi (1965).
            Toha Mohtar, pengarang yang sejak awal tahun lima puluhan produktif menulis cerpen-cerpen dalam majalah-majalah hiburan (anehnya tak pernah dia menulis dalam mejalah sastra atau kebudayaan). Toha Mohtar memulai cerpennya dengan cerpen bersambung berjudul Pulang yang dimuatkan dalam sebuah majalah umum hiburan. Cerpen bersambung tersebut lalu di buat menjadi roman dan terbit pada tahun 1958. Roman tersebut juga pernah di filmkan oleh Turino Djunaidi.
            Subagio Sastrowardojo, pengarang yang sebelumnya lebih dikenal sebagai penyair, mulai menerbitkan kumpulan cerpen berjudul Kedjantanan di Sumbing (1965). Bahasanya sangat jernih dan bersih. Lukisan-lukisan kejiwaan cerita-ceritanya sangat mengesan. Ia mempunyai keistimewaan dalam meneliti gerak-gerik batin pelaku-pelaku ceritanya. Cerpennya Perawan Tua sangat menyaran, melukiskan keadaan jiwa seorang gadis yang karena mau setia kepada kekasihnya yang gugur dalam pertempuran melawan Belanda lalu menghadapi hidupnya yang sepi. Cerpen ini plotnya mengingatkan kita kepada cerpen Armijn Pane ‘Tujuan Hidup’, tetapi dalam pengerjaan dan pendalaman sangat jauh berbeda. Perawan Tua merupakan salah satu prosa terindah yang pernah ditulis dalam bahasa Indonesia.
            Motinggo Boesje, menulis beberapa kumpulan cerpen diantaranya yaitu, Keberanian Manusia (1962), Nasihat untuk Anakku (1963), dan Matahari Dalam Kelam (1963).
            Rijono Pratikto, cerpen-cerpennya dimuat dalam majalah terkemuka di Jakarta sejak tahun 1949. Antara tahun 1952-1956 Rijono adalah pengarang yang paling banyak menulis cerpen di Indonesia. Cerpen-cerpennya yangg pertama menunjukan sangat kuatnya pengaruh Idrus, baik dalam gaya maupun dalam imajinasinya. Cerpen-cerpen permulaan itu kemudian diterbitkan dengan judul Api dan Beberapa Tjerita Pendek Lain (1951). Tapi segara ia menemukan gaya dan dirinya sendiri. Cerpen-cerpennya kemudian mendapat ciri sebagai “cerita-cerita seram.” Cerpen-cerpen semacam itu sebagian yang terbaik dibukukan dalam Si Rangka dan Beberapa Tjerita Pendek Lain (1958).
            S.M. Ardan, mula-mula menulis sajak, kemudian cerpen dan esai serta kritik. Cerpen-cerpennya yang berdialek dan melukiskan kehidupan masyarakat rendah Jakarta dikumpulkan dalam Terang Bulan Terang Dikali (1955). Ardan menulis cerpen-cerpen yang bernuansa puitis. Ardan pernah pula menyadur cerita rakyat Jakarta yang terkenal ke dalam bentuk drama tetapi ditulis secara penulisan roman, yaitu Njai Dasima (1965).
            Sukanto S.A, banyak menulis cerpen, tetapi hanya sebagian saja yang dimuat delam kumpulannya Bulan Merah (1958). Ia kemudian lebih banyak mencurahkan minatnya kepada penulisan cerita kanak-kanak.
            Alex A’xandre Leo, menulis cerpen yang kemudian sebagian dikumpulkan menjadi buku berjudul Orang Jang Kembali (1956). Ia pun menulis serangkaian satira tentang Kisah-Kisah dari Negeri Kambing.
            Bokor Hutasuhut, pertama-tama menulis cerpen-cerpen yang kemudian sebagian dibukukan dalam kumpulannya Datang Malam (1963)
            Ali Audah lebih dikenal sebagai penterjemah sastra Arab. Tetapi ia sendiri pun menulis cerpen, antaranya yang dikumpulkannya dalam buku Malam Bimbang (1961). Buku-buku lainnya yang merupakan terjemahan sastra Arab modern antaranya ialah Suasana Bergema (1959) dari pengarang Mesir Hamid G dan masih banyak lagi sastra terjemahan lainnya.
            Suwardi Idris menulis cerpen-cerpen yang kemudian dibukukan, diantaranya yaitu Istri Seorang Sahabat (1963) dan Diluar Dugaan (1963). Suwardi banyak mengambil pengalaman-pengalamannya ketika ikut bersama PRRI untuk bahan-bahan cerpennya.
            Djamil Suherman, cerpen-cerpennya mempunyai keistimewaan karena melukiskan kehidupan di pesantren. Kemudian diterbitkan berupa buku dalam kumpulan berjudul Umi Kalsum dan Cerita-Cerita Pendek Lainnya (1963).
            M. Aiwan Tafsiri menulis cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah Kisah kebanyakan. Sebagian di antaranya dimuat dalam kumpulannya berjudul Lukisan Dinding (1963).
Bastari Asnin menulis cerpen-cerpen yang diantaranya pernah mendapat hadiah tahunan majalah Sastra tahun 1961 dan 1962. Kemudian diterbitkan berupa buku dalam dua kumpulan, yaitu Ditengah Padang (1962) dan Laki-Laki Berkuda (1963).

Pengarang Cerpen Wanita
            NH. Dini, mulai menulis cerpen-cerpen yang dimuat dalam majalah Kisah dan lain-lain. Pada cerpen-cerpen itu tidak ada lagi protes-protes yang berkisar soal-soal kewanitaan yang dunianya terjepit di tengah dunia laki-laki. Tokoh wanita Dini adalah manusia-manusia yang kalau pun berontak adalah berontak karena hendak memperjuangkan harga dirinya sebagai manusia. Dalam cerpen Dua Dunia dikisahkan Dini tentang Iswanti seorang janda muda yang sakit tiphus diceraikan suaminya karena si suami main gila dengan ibu tirinya sendiri. Cerpen itu kemudian bersama dengan beberapa buah cerpennya yang lain dibukukan dengan judul Dua Dunia (1956). Dalam cerpen-cerpen itu Dini menunjukan perhatiannya yang besar terhadap kepincangan-kepincangan sosial yang dia lihat terjadi di sekelilingnya. Misalnya dalam cerpennya ‘Kelahiran’ dan ‘Perempuan Warung.’
            Titi Said adalah seorang pengarang wanita yang banyak menulis cerpen. Cerpen-cerpennya kemudian dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Perdjuangan dan Hati Perempuan (1962). Sebagian besar dari cerpen-cerpen yang dimuat dalam buku itu mengisahkan perjuangan dan perasaan hati perempuan. Cerpennya Maria dan Kalimutu merupakan cerpen-cerpen terbaik yang dimuat dalam buku tersebut.
            Tjahjaningsih muncul dengan sebuah kumpulan cerpennya Dua Kerinduan (1963). Kebanyakan cerpennya belum mayakinkan akan kematangannya. Yang dia berikan tidak lebih dari hanya harapan untuk masa depan.
            Sugiarti Siswadi banyak menulis cerpen yang dimuat dalam lembaran-lembaran penerbitan Lekra. Kumpulan cerpennya Sorga Dibumi terbit tahun 1960.
            Ernisiswati Hutomo banyak menulis cerpen yang antaranya dimuat dimajalah Sastra. Tapi belum banyak yang dibukukan.
            Enny Sumargo banyak mengumumkan buah tangannya berupa cerpen daerah (Yogyakarta, Semarang). Kini ia telah menerbitkan sebuah roman berjudul Sekeping Hati Perempuan (1969).

Cerpen Angkatan 70-an
            Cerpen-cerpen Indonesia pada tahun 1970-an seperti sengaja melepaskan diri dari konvensi cerpen sebelumnya. Ada inovasi (pembaharuan) dan pemberontakan terhadap wawasan estetik cerpen-cerpen periode sebelumnya. Itulah yang dimaksud dengan adanya kecenderungan baru, baik yang menyangkut tema cerita tokoh yang ditampilkan, alur cerita, maupun cara penyajiannya.
            Munculnya angkatan 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru, baik dibidang puisi, prosa maupun drama. pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G30/ S PKI. Dikenal beberapa tokoh pemula diantaranya yaitu, Danarto, Putu Wijaya, Kuntowijoyo, Fudoli Zaini dan Umar Kayam. Cerpen karya Danarto berjudul Godlob yang terbit pada tahun 1976 dan Adam Ma’rifat, memperllihatkan adanya penggalian mistisisme Jawa dan tasawuf, sedangkan kumpulan cerpen Kuntowijoyo dan Fudoli Zaini mengedepankan tema-tema sufistik. Yang sangat kuat mengungkapkan warna lokal budaya Jawa tampak pada cerpen-cerpen Umar Kayam, Sri Sumarah dan Bawuk. Sementara karya-karya Putu Wijaya yang cenderung menampilkan serangkaian teror mengengkat tema-tema keterasingan manusia perkotaan.
            Cerpenis-cerpenis angkatan 70-an yang karyanya termuat di Majalah Horison dan Koran Kompas, diantaranya yaitu, Sumartono dengan cerpennya yang berjudul ‘Ibu’ (1973). Selanjutnya, KZ. Suryawinata berjudul ‘Bendungan’ (1970). Wildan Yatim, dengan beberapa kumpulan cerpennya berjudul Saat Orang Berterus Terang (1974), Jalur Membenam (1974), Di Muka Pintu (1975), dan Pertengkaran (1976). Sedangkan karyanya yang berjudul Jalur Membenam sebelumnya pernah dimuat di Horison (1971). Dan Purnawan Tjondronegoro berjudul Keris yang dimuat di Horison tahun (1976).






Kesimpulan
Dalam simposion sastra yang diselenggarakan di Jakarta pada tahun 1960, Ajip Rosidi memberikan sebuah prasarana tentang ‘Sumbangan Angkatan Terbaru Sastrawan Indonesia kepada Perkembangan Kesusastraan Indonesia.’ Dalam prasarana itu dicoba untuk mencari ciri-ciri yang membedakan Angkatan Terbaru dengan Angkatan ’45. Dan dalam seminar kesusastraan yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia tahun 1963, Nugroho Notokusumo dalam ceramahnya yang berjudul “Soal Periodisasi dalam Sastra Indonesia”, mengemukakan bahwa memang ada periode baru sesudah tahun 50 yang tidak lagi bisa dimasukan ke dalam periode sebelumnya. Nugroho menekankan pada kenyataan bahwa para pengarang yang aktif mulai menulis pada periode 1950 adalah mereka yang mempunyai sebuah tradisi Indonesia sebagai titik-tolak. Sifat imitatif dari Belanda atau Eropa, melainkan ke seluruh dunia. Ditambah pula oleh penghargaan yang wajar kepada sastrawan-sastrawan. Para cerpenis angkatan tahun 1960an ini sebenarnya masih berkaitan dengan cerpen angkatan sebelumnya (angkatan 50-an).
            Cerpen-cerpen Indonesia pada tahun 1970-an seperti sengaja melepaskan diri dari konvensi cerpen sebelumnya. Ada inovasi (pembaharuan) dan pemberontakan terhadap wawasan estetik cerpen-cerpen periode sebelumnya. Itulah yang dimaksud dengan adanya kecenderungan baru, baik yang menyangkut tema cerita tokoh yang ditampilkan, alur cerita, maupun cara penyajiannya.
            Munculnya angkatan 70-an karena adanya pergeseran sikap berpikir dan bertindak dalam menghasilkan wawasan estetik dalam menghasilkan karya sastra bercorak baru, baik dibidang puisi, prosa maupun drama. pergeseran ini mulai kelihatan setelah gagalnya kudeta G30/ S PKI.








Daftar Pustaka
Yapi Taum, Yoseph, 2011, Studi Sastra Lisan, Yogyakarta: Penerbit LAMALERA.
Rosidi, Ajip, Ikhtiar Sejarah Sastra, Penerbit Binacipta.
Rosidi, Ajip, 1969, Tjerita Pendek Indonesia, Jakarta:  PT. Gunung Agung.


prev next